Ada hari-hari tertentu yang tidak datang dengan gegap gempita, namun diam-diam menetap lama dalam dada. Ia tak riuh, tak pula menggelegar. Perlahan datang seperti embun, dan mengubah cara seseorang memandang pagi. Kalender memberitahu seluruh insan, tepat pada tanggal 26 Januari 2026, di SDN Bedagung 3, Raisya Niil Nabila – akrab disapa Raisya, memahami bahwa ruang kelas bukan sekadar tempat belajar. Ia menjelma menjadi ladang kecil tempat harapan ditanam, disiram, lalu dititipkan pada waktu.
Keputusan Raisya mendaftar sebagai pengajar kelas literasi di OSIS Mengajar Angkatan III SMA Negeri 1 Magetan lahir dari kesadaran yang utuh. Perannya sebagai Duta Baca Kabupaten Magetan Tahun 2025 bukan hanya sebuah gelar, melainkan panggilan. Baginya, literasi bukan sekadar deretan huruf yang disusun rapi di atas kertas. Ia adalah napas pengetahuan, cahaya yang menuntun anak-anak agar berani berpikir, berani bersuara, dan berani bermimpi lebih jauh dari batas yang mereka kenal hari ini. Mengajar literasi adalah cara Raisya menyentuhkan kata pada kehidupan.
Raisya mendapatkan kesempatan untuk mengajar di kelas 2, 3, 5, dan 6. Empat tingkat usia, empat karakter yang berbeda, dan empat cara menyapa dunia. Pada bab pertama, mari menjelajah di kelas 2, 3, dan 5: Raisya selalu memulai kelas dengan memperkenalkan diri dengan menebarkan senyuman dan menghadirkan rasa aman. Ia ingin adik-adik tahu bahwa ruang yang sedang mereka jajaki adalah tempat di mana mereka diterima apa adanya. Kemudian, kelas dihangatkan dengan ice breaking ‘Tepuk Semangat’ dan ‘Tepuk Fokus’. Setelah dirasa perhatian mereka terkumpul, dilanjutkan dengan perkenalan diri oleh adik-adik yang menyebutkan nama, hobi, serta cita-cita. Dari jawaban- jawaban yang masih putih bersih itu, ada yang bermimpi menjadi seorang dokter, guru, polisi, tentara, bahkan mimpi sederhana untuk ‘membahagiakan orangtua’.
Pembelajaran berlanjut dengan permainan tebak-tebakan. Sebuah pouch kecil berisi berbagai macam alat tulis menjadi pusat semesta hari itu. Raisya mengambil benda secara acak dan bertanya dengan lembut: Apa namanya? Untuk apa fungsinya? Apa warnanya? Sedang di belahan mentari yang lain, adik-adik berlomba mengangkat tangan. Mereka belajar menebak sebuah benda dan melatih keberanian untuk berbicara. Setelahnya, adik-adik diberi kesempatan untuk mengambil benda sendiri, lalu menebak, menjelaskan, dan menyebutkan dengan penuh percaya diri. Secara tidak langsung, literasi tumbuh bukan karena paksaan, tetapi dari keseruan sebuah permainan.
Raisya juga mendongeng cerita fiksi tentang Tito, Tita, dan Nino. Kisah persahabatan yang sederhana namun penuh makna. Cerita disampaikan melalui media gambar, agar imajinasi adik-adik menemukan wajahnya. Mereka menyimak dengan mata berbinar, seolah tokoh-tokoh itu benar-benar hidup di hadapan mereka. Tak hanya mendongeng, Raisya juga memberikan sejumlah pertanyaan relatif mudah yang diikuti dengan rasa antusias dari adik- adik SDN Bedagung 3.
Penjelajahan kembali dimulai, sejauh mata memandang, bab kedua sudah tampak ingin bercerita pula: Di kelas 6, pendekatan Raisya mulai mengalami beberapa perubahan. Tidak ada permainan tebak-tebakan, tidak ada dongeng. Di sini, literasi mulai naik ke tingkat yang lebih tinggi, menuju nalar dan refleksi. Raisya mengajak siswa menyusun kalimat dari kata-kata yang diacak, melatih logika berpikir dan keteraturan bahasa. Setelah itu, ia memberikan tiga jenis latihan soal yang memiliki berbagai tingkat kesulitan; mudah, sedang, rumit. Hal tersebut dilakukan agar dapat menjadi ruang bagi mereka untuk menguji seberapa jauh pemahamannya mengenai literasi.
Pembelajaran literasi dipautkan ketika Raisya meminta setiap siswa mengambil satu buku dari pojok baca yang ada di setiap kelas, lalu mengajak mereka untuk keluar kelas menuju ke lapangan. Di bawah ramainya gumpalan awan, mereka dipersilakan untuk memilih tempat membaca paling nyaman, entah di bawah pohon, di tepi lapangan, atau di sudut yang paling mereka sukai. Perangai yang tak setiap orang bisa merasakannya, saat lembaran buku bertemu angin, hingga menembus lampu pijar yang perlahan meredup.
Setelah selesai membaca, mereka kembali berkumpul. Satu per satu menceritakan ulang isi dari buku yang telah dibaca. Tidak harus sempurna, Raisya hanya ingin mereka berani menyampaikan apa yang telah mereka pahami dari sebuah cerita. Setiap untaian kata disambut dengan penuh perhatian dan penghargaan. Sebagai bentuk apresiasi, Raisya memberikan snack untuk adik-adik kelas 6, dan tanpa pengecualian untuk kelas 2, 3, serta 5. Di setiap akhir pembelajaran, Raisya selalu mengajak mereka duduk melingkar di bawah untuk melakukan refleksi. Mereka diajak mengingat kembali apa yang telah dipelajari, apa yang paling berkesan, dan apa yang ingin dibawa pulang dalam ingatan.
Pada bab ketiga, Raisya mendapatkan pengetahuan baru dari adik-adik kelas 2. Ia diajak untuk melihat buah yang tumbuh di depan kelas. Mereka menyebutnya camberry – entah dari mana nama itu berasal. Kata mereka, buah yang masih berwarna oranye, rasanya pasti masam. Namun, jika sudah menghitam, akan menjadi manis. Raisya tersenyum dalam bayang samar, ia menyadari bahwa literasi tidak selalu lahir dari buku. Kadang, ia tumbuh dari pengalaman, alam, dan bahasa yang diciptakan sendiri oleh anak-anak. Dari sana, Raisya belajar – pemahaman pun memiliki proses, sama seperti buah yang tak dapat dipaksa matang sebelum waktunya.
Dari ruang-ruang kelas sederhana di SDN Bedagung 3, Raisya belajar bahwa pendidikan sejatinya tak pernah berangkat dari kesempurnaan, melainkan dari ketulusan untuk hadir sepenuhnya. Mengajar bukan tentang siapa yang paling tahu, tetapi siapa yang paling bersedia mendengar. Sebab sering kali, anak-anak tidak membutuhkan jawaban. Mereka hanya ingin diakui keberadaannya. Raisya memahami bahwa setiap anak berjalan dengan waktunya sendiri. Seperti buah camberry yang tidak bisa dipaksa manis sebelum masanya, demikian pula pemahaman dan keberanian.
Tibalah kita pada bab terakhir: Dari literasi, Raisya memetik makna bahwa kata-kata dapat menjadi rumah bagi pikiran dan perasaan. Ketika adik-adik diajak membaca, bercerita, dan menyusun kalimat, sejatinya mereka sedang belajar mengenali diri sendiri. Raisya juga belajar bahwa apresiasi kecil mampu melahirkan keberanian besar. Tepuk tangan, pujian yang tulus, dan hadiah kecil bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah pengakuan bahwa usaha mereka selalu berarti. Dari sana, tumbuh rasa percaya diri, sesuatu yang kelak akan mereka bawa jauh melampaui bangku sekolah. Dua pucuk kalimat mulai dirangkai sedemikian rupa, konon adalah suara hati Raisya,
“Aku datang membawa buku, tetapi pulang membawa keyakinan bahwa anak-anak adalah cerita paling jujur yang pernah ditulis oleh dunia. Di sela canda dan tawa, lelahku menemukan makna dan syukurku menemukan rumahnya. Dan jika suatu hari mereka lupa akan namaku, biarlah. Asal mereka ingat bahwa pernah ada yang percaya pada mimpi- mimpi indah mereka.”
Dengan penuh kasih, Raisya a.k.a Rei
Raisya Niil Nabila
Pengajar Kelas Literasi
Osis Mengajar Angkatan III
SDN Bedagung 3, Panekan