Mendaftar menjadi Pengajar Kelas Numerasi OSIS Mengajar Angkatan 3 adalah keputusan terbaik yang kuambil di awal tahun 2026. Awalnya, jantungku berdebar tak karuan, rasa percaya diri seperti benang kusut. Bahkan, aku baru mendaftar H-2 penutupan. Saat tes, pikiranku campur aduk, karena memang belum ada persiapan matang. Aku hanya mengeluarkan semua yang ada di benakku, berharap yang terbaik. Tapi, kesempatan untuk berbagi ilmu terlalu kuat untuk ditolak. Aku percaya, orang pandai adalah mereka yang tak pelit berbagi ilmu. Alhamdulillah, saat pengumuman tiba, mataku langsung tertuju pada poster yang bertuliskan “Najwa Renata Sawitri XI.2” di antara pengajar-pengajar lain. Senang, bingung, semua bercampur jadi satu. Bagaimana aku akan mengajar? Metode apa yang paling pas? Setelah berdiskusi dengan guru pembina, akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan metode simulasi berbelanja, dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan tingkatan kelas.
Saat perjalanan menuju SDN Bedagung 3 bagaikan petualangan yang mendebarkan. Jujur, ada sedikit rasa was-was karena jalannya yang naik turun. Tapi, semua itu terbayar lunas dengan pemandangan kabut yang memukau, hijaunya pepohonan yang menenangkan, dan senyum manis dari adik-adik SDN Bedagung 3. Sebelum upacara dimulai, aku menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan mereka. Aku bertanya, "Siapa di sini yang suka matematika?" dan "Sudah belajar sampai mana?" Jantungku menghangat saat mendengar banyak dari mereka yang menyukai matematika. Di tengah pandangan bahwa matematika itu momok yang menakutkan, ternyata masih ada secercah harapan.
Di jam pertama, aku mengajar kelas 1. Awalnya, aku khawatir mereka akan kesulitan dengan metode simulasi belanja yang kuusung. Tapi, ternyata… mereka sudah sangat lancar dalam menghitung penjumlahan. Nathan, salah satu siswa, bahkan mampu menjawab soal penjumlahan puluhan tanpa menghitung dengan jari atau kertas. Hatiku dipenuhi kebanggaan yang tak terlukiskan. Dan yang paling membuatku bahagia, mereka sangat antusias. Ketika aku bertanya, "Siapa yang mau belanja lagi?" semua serempak menjawab "AKUUU!" sambil berlarian ke depan.
Di jam kedua, tantangan datang dari kelas 3. Kelas ini super aktif, dengan karakter yang beragam. Ada yang pendiam, ada yang aktif menjawab, ada juga yang hiperaktif. Sebelum memulai simulasi belanja, aku mengajak mereka untuk ice breaking "siku-sakit-sikat". Dan, wow! Semangat mereka langsung membara. Saat bermain simulasi belanja, mereka sangat bersemangat memilih makanan. Ada yang memilih karena suka, ada juga yang memilih angka yang paling mudah dihitung! Siapa sangka ada strategi seperti itu? Setelah selesai berhitung, mereka berteriak "KAK SUDAHH!" dengan semangat membara. Beberapa siswa yang masih bingung tak malu bertanya, "Kak, ini gimana?" atau "Kak, benar begini bukan?" Aku senang melihat keberanian mereka.
Di jam ketiga, giliran kelas 5 yang tak kalah heboh. Saat ice breaking cek suara, mereka melantangkan suara dengan penuh semangat. Saat lomba menghitung total belanjaan tercepat, mereka benar-benar berkompetisi untuk menjadi yang terbaik. Setelah simulasi belanja selesai, aku memberikan tebak-tebakan perkalian, pembagian, dan penjumlahan. Semua aktif menjawab, dan aku memberikan hadiah spesial yang sudah kusiapkan semalam.
Jam terakhir, kelas 4, menjadi tantangan tersendiri. Jumlah siswa yang lebih sedikit dari kelas lain membuat suasana sedikit pasif. Setelah simulasi belanja selesai, waktu masih tersisa banyak. Aku harus memutar otak, mencari ide-ide dadakan. Untungnya, aku membawa beberapa media pembelajaran yang akhirnya bisa kumanfaatkan. Kami belajar bersama, menyelesaikan tantangan demi tantangan.
Saat momen terakhir tiba, yaitu menempelkan cita-cita dan menerbangkan pesawat kertas, hatiku terasa haru. Aku berharap, apa yang kuajarkan hari ini bisa menjadi bekal dan motivasi untuk mereka meraih cita-cita setinggi langit. Setelah momen itu, tiba-tiba adik-adik mulai mengeluarkan air mata. Aku dan pengajar lain langsung membuka tangan untuk memeluk mereka. "Besok kesini lagi ya kak..." "Besok main belanja-belanjaan lagi ya kak..." Kata-kata itu membuatku terenyuh, apalagi saat memeluk mereka yang sedang menangis.
Setelah menjadi Pengajar Kelas Numerasi selama sehari di SDN Bedagung 3, aku jadi lebih mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang pengajar. Ternyata, menjadi pengajar bukanlah hal yang mudah. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi di lapangan, dengan karakter siswa yang berbeda-beda. Dan satu hal yang bisa kupelajari dari adik-adik di SDN Bedagung 3 adalah, keterbatasan fasilitas bukanlah halangan untuk memiliki semangat belajar dan bermimpi tinggi.
Najwa Renata Sawitri
Pengajar Kelas Numerasi
Osis Mengajar Angkatan III
SDN Bedagung 3, Panekan