Cerita ini dimulai saat aku terpilih menajdi panitia OSIME (OSIS MENGAJAR) Angkatan ke-3. Pembina-pembina OSIME berjejer rapi di depan kami semua sembari menyampaikan “Apasih OSIME itu?”. Aku bertanya-tanya di sepanjang rapat di aula, “Bisakah aku, sebagai salah satu anggota panitia ini, menjadi bagian dari mereka?” Binar ini tertuju tepat pada jejeran pengajar OSIME Angkatan ke-2 yang ada di layar.
That thought always lashed out in my mind, walaupun aku mencoba untuk melupakannya, namun apalah daya hatiku yang sudah terpikat semenjak aku pertama kali melihat dan mendengar kalimat “Kelas Bahasa Inggris”. Aku memang menyukai bahasa Inggris sedari kecil dan tak jarang pula aku mengajari adikku dan teman-temanku mengenai materi seputar bahasa Inggris. Banyak sekali pencapaian yang kudapat dari satu mata pelajaran ini, aku berani dan percaya diri mendaftarkan diriku untuk menjadi salah satu pengajar khususnya pengajar bahasa Inggris karena... Pertama, aku memang sangat ingin untuk mengabdi pada masyarakat terkhusus mengajar, dengan kemampuanku yang dapat menjelaskan suatu hal secara terurut.
Kedua, karena dulu saat aku melaksanakan jenjang SMP di SMP IIS PSM Magetan, kami yang sudah kelas 3 SMP diwajibkan mengikuti Cambridge Test yang diadakan oleh Mentari Assesment. Honestly, this is the thing I've been waiting for the most! Saat placement test yang pertama, aku mendapatkan hasil di B1, namun itu tak membuatku menyerah, aku berusaha terus menerus hingga aku mendapat hasil B2 di placement test yang kedua. Senang? pasti! Karena aku mengalami peningkatan dan ternyata yang mendapat di level B2 hanya 13 orang dari total 60+ anak, sekaligus level tertinggi loh di angkatanku! Hehehe.
Okay, go back to the story! Selain itu, orang tuaku juga sangat mendukung apa yang kupilih karena mereka tahu dan percaya bahwa aku bisa, jadi ya... gas terus aja, Olive! Walaupun aku termasuk panitia Divisi Recruitment, tapi aku ngga tahu loh apa yang di tes untuk pengajar! So yeah, aku bener-bener nyiapin yang terbaik versi diriku aja disitu! Seusai tes wawancara, aku memperagakan prakter mengajar yang telah kusiapkan.
Jika ditanya “Nervous apa ngga sih kamu?” Jawabannya of course ngga, karena aku udah biasa sama yang namanya ngomong di depan banyak orang. Jadi ya, aku kayak ngomong biasa aja sih dan menyampaikan apa yang memang sudah kusiapkan, kalau istilahnya anak zaman sekarang tuh aku yapping sendiri disana hehehe. Seru banget jujur karena kayak ada adrenalin yang terpacu gitu kalau lagi di acara-acara kayak gini, apalagi kalau lihat muka temen yang tegang banget jadi gemesin! Bukan berarti aku meledek mereka loh ya
Singkat cerita, aku inget banget tanggal 16 Januari 2026 udah ada pengumumannya dari yang seharusnya tanggal 19 Januari. Aku bahkan ngga tahu kalau aku terpilih menjadi pengajar OSIME Angkatan ke- 3, I just knew it when one of my seniors congratulate me, It’s really hilarious! Kaget pasti, tapi kalau dibilang ngga percaya sih ngga juga ya, karena balik lagi di awal tadi. Aku punya 2 senjata, yakni berani dan percaya diri.
Bukan berarti aku meremehkan teman-temanku yang ikut tes untuk menjadi pengajar Kelas bahasa Inggris, tetapi aku yakin pada diriku sendiri bahwa semua ilmu dan juga pengalaman yang telah kudapatkan sebelumnya, akan dan pasti berguna di masa depan. Tiba-tiba... ngga kerasa kalau udah H-7 Mengajar!! Lesson Plan sudah dibagikan dan sudah disampaikan mengenai isinya. Aku kebut lesson plan agar segera jadi dan matang karena minggu-minggu itu bisa dibilang minggu yang cukup chaos buat aku.
I also thought about all the worst possibilities regarding the solution too. Bukan apa-apa, namun keadaan di lapangan tidak pasti 100% sama dengan apa yang memang sudah kita rencanakan jauh-jauh hari secara matang. It's better if our plan is good enough, but what if our plan is incomplete or we don't even know how to respond? That’s why aku segera membuat planku sematang mungkin dan tidak hanya menyiapkan satu plan, namun plan tersebut beranak.
Long story short, it’s the D-Day! On January 26, 2026, aku berangkat bersama salah satu teman pengajarku dari kelas karakter, yakni, Sabil dengan menggunakan mobil bersama 3 guru yang akan mendampingi kami. Tepat dalam perjalanan menuju SD Negeri Bedagung 3 I felt Exciting Anxiety, where I felt anxiety that came along with enthusiasm. But the image of their sweet smiles and waves at me broke that. I became much calmer.
Jalanan menanjak dan berliku, udara dingin menusuk tulang. Sambutan hangat Kepala Sekolah SD dan adik-adik yang sederhana namun tulus. Kusempatkan diriku untuk berkumpul dan berbincang ringan dengan adik-adik yang menggerombol sebelum upacara dimulai. Mereka cukup terbuka dan ramah padaku, tak sesuai dengan apa yang menjadi bayangan terburukku.
Kami dikumpulkan untuk briefing serta berdoa, rasanya semakin nyata bahwa aku benar-benar berdiri disana dengan rompi coklat muda yang sangat kuinginkan untuk kupakai. Kembali kukuatkan niatku untuk mengajar, karena dari niat yang lurus semua hal akan ada di tempatnya dengan baik pula. Upacara dibutuhkan kekhikmadan, namun untuk anak pada jenjang Sekolah Dasar pasti tidak semuanya mematuhi. Namun siapa sangka! Sepanjang upacara, yang benar-benar kuperhatikan adalah bagaimana tenangnya upacara pada pagi itu dengan peserta upacara anak SD.
Upacara telah selesai, adik-adik pun sudah memasuki ruang kelas semuanya. “It's time for me to appear,” itulah kalimat yang terlintas dalam pikiranku saat aku menaiki tangga untuk mengambil keperluanku mengajar di atas sana. Sebelum kami memulai mengajar, kami menyempatkan waktu untuk berbincang-bincang dulu agar tidak terlalu tegang nantinya. Udara yang dingin dengan atmosfer ini, wah, perpaduan yang sangat cocok!
Kelas 6 adalah kelas pertama yang kuajar, sembari menunggu mereka mengenakan bando bertulis nama mereka, aku berdiri di luar kelas dengan mengamati sikap mereka satu per satu. Masuk ke kelas, adik-adik menatapku dengan malu-malu dan mencoba mengingat-ngingat, siapa ya namaku? Karena tadi kami para pengajar memang sempat berkenalan dengan mereka seusai upacara. Saat kusapa “Good morning, adik-adik!” sambil melambaikan tanganku, mereka hanya tersipu malu.
I asked them, “Kalian sudah tahu belum kalau kakak bilang good morning jawabannya apa?” Tiga kepala menggeleng kepadaku dengan wajah polos mereka. Honestly, I was shocked there, but I quickly respond with menyamakan kata sapaan tadi dalam bahasa Indonesia agar adik-adik mudah memahami karena ada contoh realnya. Setelahnya, mereka langsung paham apa yang harus mereka katakan. Kuulangi lagi sapaanku dan mereka menjawabnya dengan tepat.
Kumulai kelasku dengan perkenalan kembali dariku, lalu aku menyuruh mereka untuk memperkenalkan diri satu per satu di depan kelas dengan menyebutkan cita-cita serta hobi yang mereka miliki. Cita-cita dan hobi mereka cukup beragam, tidak terpacu pada satu hal. Setelahnya, ku ajak mereka untuk menyampaikan kabar mereka melalui gerakan tubuh. Jika mereka merasa sedih, they have to stomp their feet. But if they feel happy, mereka harus bertepuk tangan.
Mungkin adik-adik di kelas sebelah bingung, kenapa di kelas 6 ini riuh sekali dengan tepuk tangan? Maaf jikalau kita terlalu ramai, hehe. Alright, go back to the story, ku lanjut mengajak mereka Ice Breaking dengan game Simon Says dan Marina Menari untuk meningkatkan fokus mereka. Dalam game ini, kami semua tertawa, karena semakin lama kata-katanya semakin cepat dan juga aku bolak-balik.
Ku goreskan tinta spidol pada papan tulis yang kotor itu, kalimat yang panjang atau bahkan susah untuk dieja atau dikatakan menghiasinya. Follow the Leader adalah permainan yang kumainkan setiap selesai satu materi, kupacu mereka dengan menyebutkan poin. Di mana, siapa pun yang mendapatkan poin terbanyak akan mendapatkan hadiah yang lebih banyak dari teman-temannya. Namun, tak kubiarkan salah satu dari mereka untuk tidak menjawab, semuanya kuberi kesempatan untuk menjawab dengan adil.
Antusiasme mereka semakin terpacu saat setelah materi kedua, yakni, Expressing Feelings kusampaikan. Quick Fire Quizz adalah kuis terakhir untuk menguji kepahaman mereka terkait dua materi yang sudah kusampaikan sebelumnya. Indeed, in the end they all had the same points. So, I gave them all the same amount of snacks.
Sebelum kuberi mereka hadiah karena telah mau berkontribusi secara efektif dan kondusif, kusampaikan lah kepada mereka. Bahwa, mereka berhak memiliki mimpi setinggi mungkin dan saat kutanya, "Siapa yang mau ke luar negeri?" Semua mengacungkan tangan. Kukatakanlah, bahasa Inggris adalah kuncinya, bahasa Inggris adalah bahasa yang bisa mereka pakai jika mereka bepergian ke negara apapun itu.
"Bahasa Inggris adalah bahasa internasional, oleh sebab itu kalian jangan takut untuk belajar berbahasa Inggris. Anggap saja ia adalah teman yang mana jika kalian rangkul dapat kalian kuasai dengan baik. Walaupun adik-adik bersekolah jauh dari pusat kota, tetapi adik-adik harus janji sama kakak kalau kalian akan bercita-cita tinggi dan belajar dengan bersungguh-sungguh."
I told them to close their eyes after I said that, lalu, aku berkeliling kelas satu per satu untuk menanyai mereka 2 pertanyaan. "Menurut adik, bagaimana pembelajaran hari ini bersama kakak? Terus, apakah adik ada pesan untuk kakak-kakaknya yang ada disini?" Senang sekali mendengar jawaban polos dan jujur dari adik-adik.
Then, I gave them a gift in the form of a snack that I had promised earlier. "Kalau kakak hitung 1 sampai 3 adik-adik buka mata ya!" Tepat di hitungan ke-tiga, mereka membuka mata, ekspresi senang tidak dapat mereka sembunyikan. Tangan-tangan kecil itu sibuk untuk membuka jajan yang telah kuberi.
"Thank you, Kak Olive!!" Suara mereka menggelegar di ruang kelas tersebut. Ku balas ucapan tersebut dengan senyuman yang sama lebarnya dengan milik mereka. Panitia yang bertugas untuk mengingatkan waktu telah memberikan kode bahwa waktu telah habis, ku bereskan barangku untuk meninggalkan kelas. Ku lambaikan tanganku pada mereka, binar mereka terlihat berkaca-kaca.
Ku berjalan menuruni tangga menuju ruang kelas 4, untuk cara mengajar tetap sama, hanya berbeda pada materi saja. Tempat umum dan kata kerja yang dapat dilakukan di tempat tersebut adalah materi yang ku pilih untuk kelas 4. Saat aku datang, hanya ada 2 anak dari total 3 anak di kelas ini. Ternyata, yang 1 tidak ada karena ada kegiatan olahraga voli.
Ada satu anak yang sedang sakit dan ia kurang responsif, membuat kegiatan pembelajaran sedikit ada yang ku ubah karena hal tersebut. Satu hal yang aku takutkan, jikalau satu anak yang kurang responsif ini memengaruhi anak yang cukup antusias ini bagaimana? Namun, aku percaya dengan adanya Positive Emotional Contagion yang mana jika kita semangat mereka akan semangat. Dan yap! Anak yang antusias ini semakin aktif dan anak yang kurang responsif ini menjadi lebih aktif karena hal tersebut.
Aku tak hanya berpacu pada Lesson Plan yang telah ku buat untuk cara mengajarnya, namun, di sini aku meminta adik-adik untuk bertanya pada kakak-kakak yang ada di sekitar mereka jika mereka tidak tahu apa bahasa Inggrisnya dari suatu kata. Cukup lucu melihat wajah teman-teman panitia OSIME yang dihampiri adik-adik untuk bertanya dan mereka bingung apa bahasa Inggrisnya. Bahkan karena asyiknya pembelajaran ini, terdapat panitia OSIME yang datang dan berkata ingin menjadi adiknya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Wajah bingung dan heran terpampang di wajah anak-anak kelas 4 tersebut, ekspresi polos yang berhasil membuat kami tertawa.
Bel istirahat berbunyi, aku berjalan keluar dari kelas untuk berbincang dan bermain dengan adik-adik disana. Ternyata tidak semua suka membeli jajan di kantin yang ada di depan sekolah, namun ada juga yang membawa bekal dari rumah. Saat sedang asyik-asyiknya aku memakan pentol, tiba-tiba ada salah satu anak kelas 4 SD yang memanggil namaku sambil berlari di lorong kelas. "Kak Olive, tadi botol minumnya ketinggalan."
Ucapnya sambil mengangkat botol minum ku yang berwarna hitam di salah satu tangannya. Aku terkejut dan baru tersadar, segera aku berterima kasih padanya dan mengambil kembali botol minum ku. Bel tanda berakhirnya istirahat pun berbunyi, aku berjalan ke kelas 2 yang mana terisi 4 anak kecil yang berwajah menggemaskan. Pipinya kalau kata orang-orang tuh mau tumpah!
Ku lanjutkan pembelajaran dengan biasa, untuk kelas 2 SD ini, aku telah memilih hobi, profesi, dan kata kerja yang dilakukan oleh tokoh tersebut sebagai materi utama. Antusiasme mereka cukup merata, hanya ada satu anak yang gampang sekali terdistraksi oleh dunia luar. Salah satu anak di baris kedua pojok kiri sudah tahu terlebih dahulu terkait materi yang ku ajarkan daripada yang lain. Ku tanya pada anak perempuan dengan senyuman manis itu, "Adik, kamu ikut les kah? Kok udah tahu semua materi yang kakak berikan?"
"Ngga kak, aku ngga ikut les. Aku cuma sering lihat video di YouTube." Mendengar jawaban dari mulut kecilnya, aku tertegun. "Anak sekecil ini benar-benar memanfaatkan teknologi yang ada untuk menambah wawasannya," Pikir ku.
Ku ajak lah mereka untuk membuat konten sebelum waktu pembelajaran selesai. Sebelum aku pergi ke luar sekolah, aku ajak adik-adik untuk menghafalkan jargon yang telah disiapkan panitia untuk acara penutupan nanti. "Kalau kakak bilang SDN Bedagung 3, adik-adik harus jawab: Berani bermimpi siap terbang tinggi, okay?" Mereka semangat sekali melafalkan jargon tersebut.
Yah, seperti biasa, raut sedih terpampang di wajah mereka saat aku berpamitan untuk meninggalkan kelas. Sekarang, kaki ku memimpin tubuh ini menaiki tangga dan menuju ke kelas terakhir yang aku ajar hari ini, yakni, kelas 1 SD. Honestly, this wasn't the first time I have entered this classroom. This morning, I already observed this class including how many the students also asking their names.
Aku sedikit terkejut, karena pada data yang diberikan saat membuat Lesson Plan jumlah dari murid kelas 1 adalah 3 namun, kok ini 4? Ah sudahlah, lagipula aku membawa 6 jajan lebih karena ayahku berkata untuk membawa lebih takutnya jika ada anak dari guru yang ada di sana ikut. Unik adalah satu kata yang cukup untuk menggambarkan adik-adik serta suasana yang ada di kelas ini. Salah satu adik berinisial Z sangat suka bermain dengan alat tulisnya, namun tetap berada di bangkunya.
Adik berinisial S sangat suka menggunakan permen yang berbentuk seperti lipstick untuk ia oleskan menjadi ala-ala lipstik di bibirnya. Adik berinisial N perlu dipacu dulu untuk aktif menjawab. Adik berinisial P cukup aktif, selalu mengikuti pembelajaran dengan semangat. Honestly, di kelas ini semua plan dan game sampingan yang telah kupersiapkan jika kondisi tidak sesuai telah kukeluarkan.
Aku berpikir cepat, “Apalagi ya yang perlu kusampaikan pada adik-adik?” Karena materi ruangan di rumah dan sekolah, angka, kata kerja yang dapat dilakukan pada tempat tersebut, hingga materi kelas 2 SD, yakni hobi telah kuberikan pada mereka. Aku menoleh saat namaku dipanggil, temanku yang menjaga ruangan ini mengatakan bahwa tidak apa, waktu yang tersisa dapat digunakan adik-adik untuk menulis cita-cita mereka di pesawat kertas. Kusetujuilah saran dari temanku, tak hanya itu saja, kami juga menyempatkan foto bersama dengan adik-adik. Time keeper menginstruksikan kami bahwa adik-adik dapat dibawa ke lapangan sekolah sekarang.
Kami berjalan bersama ke lapangan sekolah dengan kereta-keretaan, aku pun ikut dibelakang mereka. Lagu “Naik Kereta Api” menemani langkah kami. Inilah menurutku moment yang paling unforgettable, dimana mereka menempelkan kertas pada banner peta harta karun dan menerbangkan pesawat kertas yang telah mereka buat. Senang sekali rasanya melihat mereka tersenyum dengan lebar.
There are three things I find in common in every class. The first thing that amazed me was the piles of books in every corner of the class I taught, which they also read. The second is how cooperative and conducive they were throughout the learning process. The last thing is how enthusiastic they were to receive new knowledge and made the most of it in every situation.
Waktu kepulangan, mereka memelukku dengan erat, air mata terbentuk dan menetes dari binar polos itu, kupeluklah mereka. “Kak Olive, kakak jangan lupa sama kami,” “Kak Olive janji ya balik lagi ke sini kapan-kapan?” Kata mereka sambil tersendu-sendu. “Iya, kakak janji, adik. Nanti kakak ajak keluarga atau temen kakak deh ke sini! Jangan nangis lagi, okay?”
Momen ini cukup mengharukan, membuatku hampir meneteskan air mata. Namun, jika aku menangis di hadapan mereka, mereka akan menangis semakain parah lagi. Ku ajak mereka berbincang-bincang dan membuat konten untuk mengubah suasana. Sampai akhirnya, guru pendamping kami menginstruksikan bahwa sudah saatnya kami berpamitan dan pulang.
Kami berpamitan terlebih dahulu kepada guru-guru yang mengajar di SD Negeri Bedagung 3 ini. Lambaian tangan-tangan kecil mengiri langkahku dan teman-teman kembali ke kendaraan masing-masing. Aku benar-benar berharap bahwa aku dapat mengunjungi mereka kembali. Satu kalimat yang kuingat dari salah satu guru pendamping kami, “Jika mereka tidak merelakanmu pergi, itu berarti kamu berhasil mengajar mereka dengan sepenuh hati.”
Kuabadikan momen-momen indah itu pada akun instagramku @sunsetoocean, selain melihatnya dari akun resmi osime, @osime_smasa. Aku menyadari bahwa aku datang untuk mengajar, tetapi pulang dengan membawa banyak pelajaran hidup dari mereka, OSIME Angkatan 3 bukan sekadar program kerja, namun tentang legacy kebaikan. Aku melihat kembali foto-fotoku saat mengajar dan tersenyum, menyadari bahwa English Class tahun 2026 telah menanamkan mimpi global di desa lokal. Pada akhirnya, OSIME bukan sekadar tentang seberapa banyak kosakata bahasa Inggris yang mereka hafal, melainkan tentang jejak keberanian yang kita tinggalkan di hati mereka untuk berani bermimpi melampaui batas cakrawala desa ini.
"Teaching is not about filling a bucket, but lighting a fire." — William Butler Yeats
“Cause every night I lie in bed The brightest colors fill my head A million dreams are keeping me awake I think of what the world could be A vision of the one I see A million dreams is all it's gonna take...” A Million Dreams – The Greatest Showman (OST)
Alifiani Nurarisa Diendasari
Pengajar Kelas Bahasa Inggris
Osis Mengajar Angkatan III
SDN Bedagung 3, Panekan