Tak pernah terpikirkan awalnya bahwa sampai saat ini akan menjadi seorang pengajar dan menyalurkan pengalaman kepada anak-anak di SDN Bedagung 3. Berkarya, menggambar, dan bernyanyi hanyalah sebuah hobi semasa kecil hingga kini. Tetapi ini menjadi pintu kegembiraan dan pengalaman yang baru bagi anak-anak itu. Saya sudah menantikan momen OSIS Mengajar ini sejak angkatan 2. Tetapi apa daya, saya yang hanya berbekal kesenian rupa tanpa bekal ilmu bermusik sedikit pun. Harapan itu pun pupus. Dan di OSIS Mengajar angkatan 3 ini, saya mencoba untuk membulatkan tekad untuk mencoba sekali lagi karena terbukanya kelas seni. Harapan serca demi serca mulai nampak. Dari enam kelas yang dibuka di OSIS Mengajar angkatan 3 kali ini, saya memilih sebagai pengajar di kelas seni. Harapan demi harapan mulai muncul di benak hati. Alhamdulillah, setelah melewati beberapa tahap seleksi OSIS Mengajar, seperti pendaftaran dan tes wawancara, akhirnya saya terpilih menjadi salah satu pengajar di OSIME kali ini di kelas seni.Perasaan senang dan gembira tercampur aduk menjadi satu karena dapat menyalurkan hobi dan kemampuan saya di bidang seni sebagai wadah pengabdian diri dan penyaluran ilmu pengetahuan. Sebelum terjun di lapangan, tentunya Bapak dan Ibu guru memberikan arahan cara mengajar siswa, khususnya di jenjang sekolah dasar, karena perbedaan cara pengajaran yang harus lebih diperhatikan. Tentunya, saya juga harus menyiapkan banyak sekali materi dan bahan ajar yang akan saya ajarkan kepada adik-adik agar pembelajaran berjalan baik dan tidak membosankan.
Tibalah juga saat-saat yang dinantikan. Hari Senin, 26 Januari 2026, kedatangan OSIME di SDN Bedagung 3 disambut dengan hangat oleh Bapak dan Ibu guru serta adik-adik. Setelah melewati perjalanan yang menyejukkan hati dengan disuguhkan pemandangan alam yang indah di bawah kaki Gunung Lawu, sebuah sekolah dasar dengan pohon beringin yang besar pun mulai nampak. Baru saja sampai, saya langsung dapat merasakan bagaimana perasaan kegembiraan itu.Setiap pagi, di SDN Bedagung 3 ini memiliki rutinitas kerja bakti dan membersihkan lingkungan sekolah sebagai perwujudan sikap Adiwiyata mereka. Saat itu saya manfaatkan untuk menjelajahi lingkungan sekolah serta menyapa beberapa anak dan mengajaknya mengobrol mengenai masa depan dan cita-cita mereka. Setelah lingkungan sekolah sudah bersih, seluruh siswa-siswi serta Bapak dan Ibu guru SDN Bedagung 3, serta para panitia OSIME, bersiap diri untuk melakukan upacara bendera. Seluruh warga sekolah mulai memasuki lapangan sekolah dan upacara bendera pun segera dimulai. Rangkaian demi rangkaian prosesi upacara telah dilaksanakan dengan khidmat dan penuh rasa nasionalisme. Setelah kegiatan upacara bendera, kegiatan selanjutnya adalah perkenalan para pengajar OSIME Angkatan 3, dimulai dari kelas seni hingga yang terakhir adalah kelas public speaking (berbicara di depan umum). Setelah itu, momen yang dinantikan yaitu ice breaking bersama adik-adik SDN Bedagung 3 dengan menampilkan ice breaking “Pacu Jalur”, guna meningkatkan semangat adik-adik serta sebagai salah satu pendekatan diri dengan adik-adik sebelum kegiatan mengajar dimulai.
Kelas pertama yang saya ajar adalah kelas 2. Saat melangkahkan kaki ke dalam kelas, saya disambut oleh suasana yang sederhana namun penuh semangat. Di kelas ini hanya ada empat siswa, terdiri dari satu siswa laki-laki dan tiga siswa perempuan. Meski jumlahnya sedikit, antusiasme dan rasa ingin tahu mereka terasa begitu besar sejak awal pembelajaran.Pada pertemuan ini, saya berperan sebagai pengajar seni. Saya mengajak adik-adik untuk belajar menyelesaikan mozaik dari daun kering dengan teliti dan perlahan. Kegiatan ini menjadi upaya untuk mengenalkan konsep adiwiyata melalui pemanfaatan limbah daun kering menjadi karya seni yang bermakna. Dengan penuh kesabaran, tangan- tangan kecil mereka mulai menyusun potongan daun, belajar fokus dan menghargai setiap proses yang dijalani.Suasana kelas terasa hangat dan menyenangkan. Tawa kecil dan obrolan sederhana sesekali terdengar saat mereka saling memperlihatkan hasil karya masing-masing. Waktu pembelajaran selama 40 menit terasa begitu cepat berlalu, seolah tidak cukup untuk menikmati kebersamaan dan proses belajar yang berharga ini.
Pada sesi terakhir, saat saya mengamati keadaan kelas, pandangan saya tertuju pada mading yang masih kosong. Seketika muncul ide untuk memanfaatkan mading tersebut agar dapat menjadi kenangan dari perjalanan OSIME di kelas seni. Saya pun mengajak adik-adik untuk memajang karya mozaik daun kering yang telah mereka buat. Bersama-sama, kami menata dan menempelkan karya tersebut di mading kelas.Melihat hasil karya mereka terpajang rapi, terpancar rasa bangga di wajah adik-adik. Saat itu saya menyadari bahwa mengajar seni bukan hanya tentang menciptakan karya, tetapi juga tentang meninggalkan jejak kenangan, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, serta menghadirkan kebahagiaan dalam proses belajar.
Setelah menyelesaikan pembelajaran di kelas 2, perjalanan OSIME saya berlanjut ke kelas berikutnya, yaitu kelas 1. Kesan pertama saat memasuki kelas ini terasa sangat menyenangkan. Suasana kelas begitu terkendali, adik-adiknya tenang, tidak ramai, dan siap mengikuti pembelajaran. Vibes positif itu langsung terasa dan membuat proses belajar menjadi lebih nyaman sejak awal.Di kelas 1 terdapat empat siswa, terdiri dari dua siswa laki-laki dan dua siswa perempuan. Nama-nama mereka masih teringat jelas hingga kini, yaitu Selfi, Putri, Fikri, dan Nathan. Kehadiran mereka memberikan energi positif selama kegiatan OSIME mengajar angkatan ketiga ini berlangsung.Pada pertemuan ini, saya membawakan materi seni berupa eksplorasi warna. Adik-adik diajak mengenal warna primer, sekunder, dan tersier melalui kegiatan mewarnai gambar ikan menggunakan jari-jari tangan. Setiap jari diberi warna yang berbeda, sehingga mereka dapat mengeksplorasi pencampuran warna secara langsung. Melalui proses ini, adik-adik tidak hanya belajar tentang warna, tetapi juga mengenal bentuk, ritme pewarnaan, serta keberanian dalam berekspresi.
Di akhir kegiatan, saya tidak ingin hasil karya mereka hanya berhenti sebagai tugas semata. Untuk mengingat momen OSIME di kelas seni, saya mengajak adik-adik secara bergantian menempelkan hasil karya mereka di dinding kelas. Kegiatan sederhana ini menjadi simbol bahwa pada OSIME ketiga ini, mereka telah menghasilkan sebuah karya yang berharga dan tak terlupakan.Melihat karya-karya itu terpajang rapi di dinding, terpancar rasa bangga dari wajah adik-adik. Saat itu saya kembali menyadari bahwa pembelajaran seni bukan hanya tentang proses mencipta, tetapi juga tentang meninggalkan kenangan, membangun kepercayaan diri, dan menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna.Tidak terasa, empat puluh menit di kelas satu pun berlalu dengan cepat. Saat bel istirahat berbunyi, kegiatan belajar kami pun selesai. Di akhir pembelajaran, saya memberikan snack kecil-kecilan agar adik-adik tetap semangat dan juga supaya mereka semakin mengenal kami dari OSIS Mengajarl melalui kegiatan ini.
Setelah keluar dari kelas, saya berkeliling melihat suasana di SDN Bedagung 3 saat jam istirahat. Banyak anak-anak yang sedang bermain bersama. Ada yang bermain kelereng, bercerita dengan teman, membeli jajan, dan ada juga yang masih di dalam kelas untuk memakan bekal. Suasana itu terasa sangat menyenangkan dan membuat saya seperti kembali menjadi anak SD lagi.Di sela-sela kegiatan tersebut, saya mendapat tugas dari pembina untuk melakukan kampanye Adiwiyata di kelas 5. Saya pun bersama panitia OSIME menuju kelas 5 dan menggambar pamflet Adiwiyata di papan tulis. Lewat gambar sederhana itu, kami ingin mengajak adik-adik untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Bel masuk pun berbunyi, dan saya melanjutkan kegiatan dengan masuk ke kelas 4. Di kelas ini, Ada siswa yang sedang sakit.Tetapi suasana kelas tetap terasa segar dan menyenangkan. Pembelajaran di kelas 4 saya buat berbeda dari kelas 1 dan kelas 2. Kali ini, saya mengajak adik-adik bermain sebuah permainan berupa susun puzzle batik. Melalui permainan ini, saya ingin mereka belajar bekerja sama dalam menyusun dan menyelesaikan puzzle tersebut. Saya memberi waktu 10 menit untuk menyelesaikan permainan itu.Adik-adik terlihat kompak dan saling membantu satu sama lain. Setiap kali mereka berhasil menyelesaikan puzzle kurang dari 10 menit, saya memberikan hadiah berupa jajan kecil-kecilan sebagai bentuk apresiasi. Setelah permainan selesai, saya melanjutkan dengan bercerita sedikit tentang batik dan pola motif yang baru saja mereka susun.
Jam terakhir pun terasa datang tanpa disadari. Saya kemudian masuk ke kelas 5, yang menjadi kelas terakhir dalam perjalanan OSIME angkatan ketiga kali ini. Rasanya sedikit campur aduk, antara capek, senang, dan tidak percaya kalau rangkaian kegiatan hari itu akan segera selesai.Di kelas 5, saya kembali mengajak adik-adik belajar dengan cara yang menyenangkan, yaitu lewat permainan. Kali ini bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi mengajak mereka bermain sambil belajar. Permainannya adalah melanjutkan gambar paling cepat. Kelas dibagi menjadi dua tim, lalu masing-masing tim bergantian menggambar di papan tulis sesuai contoh gambar yang saya berikan. Tim yang paling cepat dan tepat dalam menyelesaikan gambar akan mendapatkan hadiah kecil.
Suasana kelas saat itu benar-benar ramai. Teriakan semangat, tawa, dan sorak-sorai terdengar dari berbagai sudut kelas. Kelas terasa hidup, penuh energi, dan dipenuhi kebahagiaan. Namun di tengah keseruan itu, saya juga mencoba menyelipkan pembelajaran tentang sikap. Saya mengingatkan adik-adik untuk tetap bisa mengontrol diri, lebih tenang, dan menjaga kondisi kelas agar tetap kondusif, karena kelas di sebelah juga sedang belajar dan membutuhkan suasana yang nyaman.
Memasuki 10 menit terakhir, saya dan rekan saya memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan kampanye Adiwiyata. Kami mengajak adik-adik untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Kami menyampaikan hal-hal sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak membiarkan air menggenang, serta selalu menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Pesan itu kami sampaikan dengan cara ringan agar mudah dipahami dan diingat oleh mereka.Di akhir kegiatan, saya merasa bahwa kelas 5 menjadi penutup yang pas untuk perjalanan OSIME kali ini. Dari awal hingga akhir, saya belajar bahwa mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga tentang berbagi pengalaman, menanamkan nilai, dan menciptakan kenangan. Kegiatan ini menyadarkan saya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil, dan semuanya berawal dari diri kita sendiri demi masa depan yang lebih baik.
Tak terasa, seluruh rangkaian kegiatan OSIME pun hampir mencapai penghujungnya. Setelah melalui berbagai kelas, tawa, permainan, dan pembelajaran, tibalah saat penutup yang penuh makna. Bersama - sama, kami mengadakan dua kegiatan simbolis, yaitu menempelkan pohon cita-cita dan menerbangkan pesawat kertas.Adik-adik menuliskan harapan dan impian mereka di selembar kertas kecil, lalu menempelkannya pada pohon cita-cita. Satu per satu harapan itu terpasang, sederhana namun penuh makna. Setelah itu, dengan wajah penuh semangat, adik-adik menerbangkan pesawat kertas ke langit. Seolah-olah mereka sedang mengirimkan doa dan mimpi mereka kepada semesta, berharap suatu hari nanti impian itu benar-benar bisa terwujud.
Kegiatan OSIME memang hanya berlangsung setengah hari, tetapi kesannya terasa begitu dalam. Rasa lelah yang saya rasakan seharian seakan hilang begitu saja saat melihat senyum bahagia di wajah adik - adik. Dalam perjalanan pulang, saya kembali mengingat setiap momen yang telah dilalui. Saya menikmati pemandangan di sepanjang jalan sambil membiarkan kenangan hari itu terputar di benak saya,tawa adik-adik, suara mereka yang riang, serta mimpi-mimpi yang mereka ucapkan dengan penuh keyakinan. Hari itu, saya tidak hanya mengajar, tetapi juga menorehkan kenangan yang akan selalu saya simpan.Dari perjalanan OSIME kali ini, saya menyadari satu hal penting sebagai seorang pengajar: bahwa sesuatu yang diajarkan dengan sabar dan tulus dari dalam hati, pastinya akan diterima oleh hati yang tulus dan penuh juga. Mengajar bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang menerima. Kami tidak hanya memotivasi adik-adik, namun justru sering kali kami yang termotivasi oleh semangat dan ketulusan mereka.
Saya juga belajar bahwa di balik keterbatasan fasilitas, kekurangan sumber daya, dan berbagai kondisi yang ada, tersimpan begitu banyak mimpi setinggi langit di hati adik-adik. Semua itu mengajarkan saya bahwa kita harus tetap semangat, membulatkan tekad, dan berani bermimpi besar, berani terbang tinggi, meskipun dalam keterbatasan.Pengalaman OSIME ini menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan selama 11 tahun perjalanan saya menempuh pendidikan hingga berada di titik ini. Saya berharap ilmu dan pengalaman kecil yang kami berikan dapat menjadi bekal, penuntun, dan penyemangat bagi adik-adik untuk melangkah menuju masa depan mereka. Hingga suatu hari nanti, kami tahu bahwa kalian mampu menepati janji kalian pada mimpi-mimpi yang telah kalian tuliskan, dan pada kami yang pernah menemani langkah awal kalian.Melalui OSIME, saya juga semakin menghargai peran seorang guru. Menjadi pengajar bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, kreativitas, dan ketulusan untuk memahami setiap anak dan menciptakan ruang belajar yang aman serta menyenangkan. Terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menyalakan pelita ilmu. Semoga setiap ilmu yang dibagikan menjadi cahaya yang terus bersinar dan membawa manfaat bagi banyak orang, bagaikan matahari yang tak pernah padam hingga esok hari.
Rieno Bagas Putra
Pengajar Kelas Seni
Osis Mengajar Angkatan III
SDN Bedagung 3, Panekan